Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

Biografi KH Abdul Aziz Manshur


KH. Abdul Aziz Manshur dilahirkan di Paculgowang Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur, tahun 1942 M. Sewaktu Jepang mulai berkuasa di Indonesia.
Sejak usia dini beliau telah dididik oleh kedua orang tuanya.  Pada usia 4 tahun beliau diajar orang tuanya mengenal fasolatan, thoharoh (sesuci) dan menghafal juz Amma  langsung oleh Ibu beliau. Memasuki usia 6 tahun beliau mulai ikut sekolah, kemudian dilanjutkan dengan belajar Al-Quran. Dalam mengkaji Al-Quran,  hanya butuh waktu 1 tahun bagi beliau untuk mengkhatamkan Al-Quran, dan mengadakan tasykuran.
Memasuki usia 7 tahun, KH. Abdul Aziz Manshur mulai masuk sekolah rakyat (SR) yang kedudukannya setingkat dengan Sekolah Dasar (sekarang) berada di desa Bandung.  Pada kelas satu beliau diajar oleh seorang guru bernama Suroto, dengan tetap mempelajari Al-Quran dan Al-Barzanji, Diba’ sekaligus dengan makna oleh orang tua beliau.
Di sekolah rakyat ini, beliau berhasil menguasai  baca, tulis, berhitung, sejarah, berbahasa Indonesia,  dan beberapa keterampilan, seperti;  membuat kaset, kipas, dan lain-lain.  Beliau terpaksa masuk sekolah rakyat ini karena memamng sekolah yang ada pada  waktu itu hanya sekolah rakyat. Setengah tahun lamanya sekolah di SR beliau pindah ke Madrasah Ibtida’iyyah Paculgowang yang sempat vakum beberapa tahun akibat agresi Belanda ke II.
Sejak kecil KH. Aziz Manshur selalu diajarkan sholat dan puasa oleh kedua orang tuanya dengan pengawasan yang ketat. Meskipun demikian, masa kecil beliau juga tidak luput dari permainan, beberapa permainan yang beliau gemari di antaranya sepakbola, kasti, obak sodor, dan lain sebagainya. Dari berbagai macam permainan yang paling digemari adalah perang-perangan, di dalam permainan perang-perangan itu beliau mengatur dan mempin peperangan.  Pada waktu itu KH> Aziz Manshur belum mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin, yang ada dalam angan-angan dan cita-cita beliau adalah alangkah bahagianya bilamana hidup di tengah masyrakat bisa memberi pertolongan dan membahagiakan orang lain.
Ajaran dari orang tua yang melekat di sanubari di samping hal ikhwal yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari adalah berupa kepingan-kepingan dawuh (mauidloh) yang disampaikan dengan senda gurau saat berkumpul dengan keluarga. Kitab-kitab yang sering disampaikan sebagai landasan yang kemudian melekat di sanubari adalah Sullam Safinah, Bidayatul Hidayah dan Aqidatul Awam.
Orang tuanya selalu mengajarkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak malas, hal tersebut dilakukan orang tua beliau dengan cara memberikan dengan suatu perjanjian. Contoh beliau senang dengan kelinci atau kambing, maka orang tua beliau membelikan semua itu dengan janji agar beliau mau merawat sendiri, mencarikan makan, merawat kandang dan membersihkannya. Begitu juga ketika beliau menginginkan baju, kedua orang tua pun membelikan dengan janji untuk merawat, mencuci, melipat  sampai menyimpannya di almari sendiri.
Setelah pindah di MI paculgowang maka perhatian beliau terfokus pada pelajaran,  dan pelajaran agamalah yang menjadi idaman beliau, alangkah bahagia seandainya dapat membaca kitab-kitab tanpa makna seperti orang tua dan kakek, nenek  beliau.  Begitu juga, alangkah bahagianya andaikata bisa mengajarkan ilmu agama kepada orang lain. Orang tua beliau juga sering menceritakan keberhasilan Mbah KH. Abdul Karim Lirboyo.
Setelah dua setengah tahun di Tebuireng, ada pergantian kurikulum dengan tujuh jam pelajaran yang terdiri dari empat matapelajaran umum dan tiga pelajaran agama. Ini menjadi pertimbangan khusus karena saat itu beliau sedang fokus dengan ilmu agama, kemudian memutuskan untuk pindah. KH. Abdul Aziz Manshur kemudian berpindah ke Sarang, Watu Congol, Banten, Cirebon.  Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau memutuskan untuk menggapai cita-citanya di Pondok Pesantren Lirboyo. Yang mana Lirboyo adalah pondok yang fokus untuk mempelajari ilmu alat (nahwu & sorof). Dan saat bulan puasa tiba, beliau tabarrukan di pondok pesantren lain.
Selama menimba ilmu di Lirboyo, KH. Abdul Aziz Manshur termasuk santri yang berprestasi, sehingga Almaghfurlah KH. Marzuki Dahlan (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo) mengambil beliau sebagai menantu. Setelah melangsungkan pernikahan, tak lama kemudian KH. Abdul Aziz Manshur menggantikan ayahandanya yang telah kembali kerahmatullah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in.
KH. Abdul Aziz Manshur dengan penuh tanggungjawab memikul amanah dari ayahandanya, mengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin dengan sepenuh hati, percaya diri, dan rasa ikhlas. Pondokpun semakin maju dan berkembang, meski era globalisasi telah menggeser semua “barang lama” dan menyebabkan pergeseran nilai-nilai kehidupan di tengah masyarakat, tetapi beliau tetap mempertahankan sistem kesalafan yang murni dan konsisten. (memori '97)


Kamis, 03 November 2016

Biografi KH.Munif Djazuli ploso

 Meneladani seorang ulama tak akan ada habisnya. Selalu saja terselip uswah di setiap sudut kehidupannya. Sekecil apapun yang diperbuat, di balik itu semua akan ada hikmah yang dapat dipetik oleh umat. Dan mungkin itulah yang disinyalir dalam hadis Nabi, bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Bukan mewarisi harta, dirham dan dinar, tapi ilmu dan keteladanan.

Sabtu, 15 Oktober 2016

KH. AHMAD DJAZULI UTSMAN

 created by : harun arrosyid

DI AWAL ABAD KE-20, TEPATNYA TANGGAL 16 MEI 1900 DISAAT PENJAJAH MENINDAS BANGSA INDONESIA, TELAH LAHIR SEORANG BAYI YANG DIBERI NAMA MAS'UD. IA LAHIR DARI KALANGAN BANGSAWAN YANG RELEGIUS DARI KELUARGA BESAR RADEN MAS M. UTSMAN SEORANG ONDER DISTRIK (PENGHULU KECAMATAN). SUASANA GEMBIRA MENYAKSIKAN LAHIRNYA BAYI DI DUNIA, DARI WAJAHNYA TERPANCAR NUR ILAHIYAH PERTANDA BAHWA KELAK IA AKAN MENJADI FIGUR YANG DIKAGUMI MASYARAKAT.

Senin, 10 Oktober 2016

Biografi KH hamim dzajuli


KH Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur.
created by : harun arrosyid 11 oktober 2016

Sabtu, 10 September 2016

BIOGRAFI KH M.ANWAR MANSHUR

Sosok pribadi yang tegas, Istiqomah, dan amanah

Posted By : Harun Arrosyid

 Seorang tokoh lirboyo yang Kharismatik, salah satu penerus tapak tilas perjuangan para tokoh-tokoh pendahulunya
  Kiai 'alim yang menjadi pengasuh pondok pesantren Lirboyo ini mengemban amanat yang cukup berat, untuk bisa mempertahankan nilai pendidikan tradisional yang telah ditanamkan para tokoh sebelumnya seperti kiai Abdul Karim, kiai Marzuqi Dahlan dan kiai Mahrus Aly.

Jumat, 02 September 2016

Biografi,Karomah dan Kisah Teladan KH Mubasyir Mundzir

KH. Mundzir adalah pengasuh pondok pesantren “Tahfidzul Qur’an Ma’unah Sari” Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur.
Posted By : Harun Arrosyid 02 September 2016
Sebagai Kyai kharismatik atau di segani oleh masyarakat, KH Mundzir mempunyai karomah antara lain :
1.       Si kecil yang perkasa
Perilaku masa kecil Kyai Mundzir wajar-wajar saja, sebagaimana anak kecil pada umumnya, walau kadang memperlihatkan pola tingkah yang tidak lumrah atau nganeh-nganehi, yang di dunia pesantren bisa di istilahkan dengan kata khorikul ‘adah, pernah suatu ketika Kyai Mundzir memainkan gentong / mengangkat-angkat gentong dengan santainya, tentu hal ini mengundang keheranan dan rasa takjub bagi siapapun yang melihatnya. Rasa heran dan takjub itupun semakin menjadi tatkala gentong tersebut penuh dengan air yang bagi satu orang dewasapun umumnya belum kuat untuk mengangkatnya, namun ternyata Kyai Mundzir yang masih anak-anak itu bukan sekedar mengangkat, malah memainkanya dengan santai laksana seorang “pendekar atau jagoan kungfu” yang sedang memperlihatkan keahlianya.

Selasa, 02 Agustus 2016

Biografi KH Maksum Jauhari





 Posted By : Harun Arrosyid
Sang Pendekar Dari Pasantren Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding. 

Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.

Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.

Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.

Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa.” Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Ahmad Sidiq.

Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya).

Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.

Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.

Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. (NU Online)



Minggu, 31 Juli 2016

Biografi KH. Imam Yahya Mahrus

Pendiri Pon Pes HM Al-mahrusiyah Cabang Lirboyo

Terlahir sebagai seorang pemenangPada tahun 1948 hingga 1949 terjadi sebuah agresi Belanda yang dikenal sebagai “aksi polisional kedua”. Di saat itu, KH. Mahrus Aly menghimbau seluruh santri Lirboyo untuk mengungsi ke beberapa tempat termasuk di bawah kaki gunung Klotok, Mojokudi, sementara Nyai Hj. Zainab diungsikan bersama dzurriyah putri lainnya di kediaman KH. Marzuqi Dahlan. Selang beberapa saat setelah santri-santri kembali ke Lirboyo, lahirlah seorang bayi mungil dari rahim Nyai Hj. Zainab yang diberi nama Imam Yahya. Beliau lahir bak seorang pemenang di saat suasana genting menyelimuti langit Kediri. Memang belum jelas tentang kepastian tanggal dilahirkannya Imam Yahya. Namun menurut Agus Reza (putra pertama Kiai Imam Yahya), dari surat-surat yang ada, tertera beliau lahir pada 01 Agustus 1949. KH. Mahrus (ayahanda Kiai Imam) memberi nama Imam Yahya yang diambil dari nama pemimpin Yaman tahun 40-an, Imam Yahya yang berjuluk Amir al-Muslimin, seorang ahli politik, strategi dan ilmu alat (Nahwu-Sharaf). Tentu, harapannya kelak Imam Yahya menjadi sosok seperti Imam Yahya, Sang Amir al-Muslimin.

Posted By : Harun Arrosyid 01 Agustus 2016

Masa kecil dan pendidikan keluarga Kiai Imam Yahya lahir di tengah-tengah keluarga pesantren. Paman, kakek serta ayahandanya merupakan ulama-ulama besar, sehingga kehadiran beliau adalah harapan besar bagi perkembangan dunia pesantren. Di masa kecilnya, Kiai Imam mendapat pengawasan penuh dari KH. Mahrus Aly dan Ibunda Nyai Zainab. Tempaan ilmu agama terus ditanamkan oleh KH. Marus Aly dalam kepribadian Kiai Imam. Setiap malam Kiai Imam sorogan al-Qur’an kepada ayahandanya. Tak jarang, dengan nada tegas KH. Mahrus Aly membenarkan pelafalan makhraj Kiai Imam, “Kalau Hamzah itu harus mangap (membuka mulut) sembari mengepalkan tangan beliau ke mulut kiai Imam. Pernah juga suatu ketiak saat jalan-jalan bersama sang ayah, Kiai Imam melihat buruh angkut lalu sang ayah berkata “Lihatlah kepada orang-orang itu yang kerjaannya mengangkut barang-barang, cobal kalau mereka memiliki ilmu yang tinggi maka mereka pasti akan memiliki profesi yang lebih layak”, dengan maksud agar Kiai Imam lebih bersemangat dalam menimba ilmunya. Demikianlah KH. Mahrus Aly terus mendidik putranya agar menjadi sosok yang disiplin, tegas, berani serta memiliki motivasi tinggi dalam belajar.

Bisikan menuju Sarang.Ketika mulai menginjak usia 20-an, Kiai Imam sering diajak KH. Mahrus Aly untuk “nderekaken” (mengikuti) ke manapun beliau pergi. Sekitar tahun 1968, dalam sebuah perjalanan di derah Trowulan, Mojokerto, tepat di depan sebuah lokasi –yang konon- bekas petilasan kerajaan Majapahit, Kiai Imam mendengar suara orang tak dikenal, entah dari mana asalnya, “Awakmu sesuk mangkato mondok neng Sarang, ojo ngomong sopo-sopo, sangu sak cukupe, ojo kondo sopo-sopo” (Besok, berangkatlah nyantri ke Sarang, jangan bilang siapa-siapa, bawalah bekal secukupnya, jangan bilang siapa-siapa).
Keesokan harinya beliau langsung berangkat ke Sarang dengan membawa bekal 25 perak, yang dikira oleh ibu serta pamannya, Kiai Imam kabur dari rumah dan menjalani profesi sopir atau kernet seperti yang pernah dilakukannya. KH. Marzuqi Dahlan prihatin atas kaburnya Kiai Imam. Keluarga sangat panik dan khawatir tentang keberadaan Kiai Imam. Usaha pencarin untuk menemukan keberadaan beliau dilakukan ke berbagai penjuru tanah Jawa sampai Jakarta. Setelah tiga bulan tidak ditemukan, kabarpun datang, bahwa Kiai Imam sudah mondok di Sarang.
Awal perjalanan Kiai Imam menimba ilmu di Sarang, beliau bertemu dengan KH. Zubair (ayahanda KH. Maimun Zubair). Anehya, Kiai Imam malah langsung disuruh menemui dan ikut KH. Maimun. Padahal Kiai Imam bermaksud nyantri kepada KH. Zubair. Akhirnya Kiai Imam diterima sebagai santri pertama KH. Maimun Zubair.
Beberapa bulan di Sarang, Kiai Imam belum mengikuti salah satu pengajian yang diadakan di pondok. Keadaan demikian membuat beliau gusar dan malu kepada Kiai Maimun. Kemudian beliau memutuskan untuk mengikuti ngaji di kelas 5, setelah dua minggu beliau tidak betah karena tidak paham dengan pelajaran kelas 5. Tapi anehnya, beliau malah mau pindah naik ke kelas 6. Baru 2 minggu juga Kiai Imam tidak betah di kelas 6 dan mau naik ke kelas 1 Tsanawi, begitu seterusnya samapi kelas 3. Setiap kelas yang Kiai Imam ikuti pengajiannya, tidak lebih dari satu bulan. Setelah tamat dari tsanawiyah, Kiai Imam diajak ngaji kitab Nashaih al-Ibad oleh Kiai Maimun hingga khatam. Kitab lain yang pernah dikhatamkan bersama beliau adalah Alfiyah ibn Malik, Syarh Ibn Aqil, dsb.
Menurut KH. Abdullah Ubab (putra KH. Maimun), Kiai Imam juga pernah ngaji di hadapan Kiai Zubair kira-kira setahun. Kiai Imam pernah mengakui, “Aku seneng ngaji bahkan aku iso ngaji ya di sini”. Menurut Kiai Ubab, Kiai Imam dalam memuliakan Kiai Maimun sangat luar biasa, juga kepada keluarga kiai, guru-gurunya bahkan orang kampung sekitar pondok, ia pandai mencari perhatian orang-orang di sekitanya, seolah menjadi bakat dan pertanda beliau akan menjadi ulama yang merakyat.
Menuntut ilmu di Makkah dan MadinahUntuk menambah wawasan, KH. Mahrus Aly memerintahkan Kiai Imam agar melanjutkan studinya ke Timur Tengah. Tepat tahun 1974, Kiai Imam berangkat menuntut ilmu ke Saudi Arabia bersaman dengan sang ayah menunaikan ibadah haji. Setelah dua tahun di Makkah, kemudian beliau belajar di Universitas Islam Madinah al-Munawwarah. Beliau banyak belajar dari para ulama terkemuka di sana, di antaranya Sayyid Alawi al-Maliki, Syekh Yasin al-Padani, Dr. Muhammad Abduh al-Yamani, dsb. Berbagai macam ajaran dari berbagai aliran agama Islam telah beliau pelajari sehingga wawasan tentang aliran hingga perbedaan pendapat dalam ulama Islam semakin luas. Meski demikian, doktrin pesantren tak membuat Kiai Imam bergeser dari paham aswaja. Mungkin dengan nuansa pembelajaran seperti itulah, sikap beliau semasa hidup selalu mengedepankan tasamuh atau toleransi ketika berinteraksi dengan siapa saja, dari kalangan apa saja, bahkan dengan komunitas non muslim sekalipun.
Tahun 1979, di Saudi Arabia terjadi gerakan teror dari komunitas oposisi yang disebut dengan “Hawadits Juhaiman”. Ketika itu Kiai Imam ingin melihat baku hantam antara dua kubu yang berseteru. Saat mengangkat kepala untuk melihat dari kajauhan, tanpa diduga peluru panas melesat dan mengenai pelipis mata sebelah kiri. Kiai Imam langsung dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan operasi, dan Alhamdulillah Kiai Imam terselamatkan walaupun sempat beredar berita kepada keluarga melalui media cetak bahwa Kiai Imam meninggal dunia.
Menikah dengan putri mursyid thariqatWaktu terus bergulir, tiba saatnya di mana kiai Imam menikah. Beliau dijodohkan dengan Ning Zakiyah Miskiyah, putri KH. Muhammad Utsamn al-Ishaqi (Mursyid Thaqirat al-Qadiriyah wan-Naqsyabandiyah Surabaya). Beliau menikah di saat Kiai Imam libur kuliah pada tahun 1978. Sebenarnya waktu itu beliau masih dalam tahap belajar di bangku kuliah Universitas Islam Madinah. Setelah sebulan menikah, Ibu Nyai Zakiyyah ditinggal selama satu tahun oleh Kiai Imam untuk melanjutkan kembali studinya di Madinah. Pada tahun 1979 sang ayah meminta Kiai Imam pulang ke Indonesia setelah dirasa luka tembak di pelipis sembuh. Mulailah Kiai Imam menahkodai rumah tangga dengan Ning Zakiyah di sebuah rumah kecil yang sederhana dengan satu kamar. Tak ada rasa keluh kesal dari keduanya, hingga pernikahan ini melahirkan enam keturunan, 4 anak laki-laki (Gus Reza, Gus Iing, Gus Nabil, Gus Izzul) dan 2 anak putri (Ning Etna, Neng Ochi). Kiai Imam adalah sosok yang disegani oleh keluarga, Beliau terkenal tegas dalam mendidik, walaupun kepada putra-putrinya sendiri. Di balik ketegasannya, Kiai Imam memiliki sifat adil dan bijaksana, beliau tak membedakan putra-putrinya dalam segala hal bahkan uang saku.
Mendirikan kamar-kamar untuk “teman mukim”Pada tahun 1985, KH. Mahrus Aly wafat. Semenjak itu, Kiai Imam melaksanakan amanat dan wasiat sang ayah, termasuk mendidik santri, beliau memulainya dengan membantu mengurusi pondok HMC dan mengembangkan perguruan Tinggi Universitas Islam Tribakti (UIT). Kiai Imam bersama keluarga menempati sebuah rumah yang memang sudah mulai dibangun semasa hidup sang ayah.
Ndalem timur merupakan awal mula Kiai Imam memiliki santri. Awal mulanya hanya empat santri, namun sedikit demi sedikit para santri berdatangan untuk bermukim. Waktu itu, beliau belum berniat mendirikan pesntren. Kiai Imam hanya berniat menjadikan santri-santri sebagai teman mukim, dan membangunkan kamar-kamar untuk mereka. Hingga akhirnya –dengan segala pengorbanan- wasiat sang ayah untuk membeli tanah di depan dan di utara rumah beliau laksanakan untuk dibangun sebuah asrama yang sekarang menjadi gedung Hidayatul Mubatadi’in Putra, gedung MA dan MTs HM Tribakti serta SMK al-Mahrusiyah. Awalnya, di tahun 1988, pesantren tersebut diberi nama Ibnu Rusyd diambil dari nama kecil Kiai Mahrus, kemudian berubah menjadi HM. Putra dan berganti lagi menjadi al-Mahrusiyah (hingga sekarang).
Dalam kepengasuhannya, Kiai Imam sangat dekat dengan santri, tak heran bila semua santri akan merasa sebagai anak kandung ketika berhadapan/berinteraksi dengan beliau. Kiai Imam membimbing santri dengan penuh keikhlasan dan ketekunan. Beliau memimpin kegiatan sorogan kitab kuning pukul 21.00. Beliau akan bertindak tegas pada siapapun yang terlihat loyo atau kurang bersemangat dalam mengaji. Untuk menempa spiritual para santri, menjelang 02.00 dini hari, beliau juga selalu membangunkan santri untuk melakukan qiyam al-lail dan istighatsah. Cara Kiai Imam mendidik santri adalah dengan member contoh terlebih dahulu barulah santri dituntut mandiri setelahnya seperti salat jamaah, istighatsah, tahlil, dsb. Berkat ketekunan dan ketegasan Kiai Imam, al-Mahrusiyah sekarang mempunyai tiga cabang dengan berbagai macam unit pendidikan, baik formal maupun non formal.
Kiprah di dunia akademikSepeninggal Kiai Mahrus Aly, Kiai Imam mendapatkan amanat untuk mengembangkan perguruan tinggi yang telah dirintis sang ayah sejak 1966 yaitu Universitas Islam Tribakti yang sekarang menjadi Institut Agama Islam Tribakti (IAIT). Saat menjabat rektor, Tribakti hanya memiliki tidak lebih dari dua gedung dengan beberapa ruang dan mahasiswa.
Untuk mengembangkan Tribakti, beliau sangat aktif membuka koneksi denan pihak luar, inilah keistimewaan Kiai Imam. Beliau mampu berinteraksi dengan dunia pesantren dan dunia akademisi. Ketika di pondok, belia tak ubahnya kiai yang utun dalam mendidik santri. Ketika di kampus, beliau layaknya seorang intelek, sering mengisi kegiatan seminar, workshop, diskusi, pelatihan, sarasehan, dll. Di luar itu, beliau juga sibuk dalam kepengurusan RMI Jawa Timur, hingga tak jarang beliau sering terjun ke beberapa pesantren untuk berkonsolidasi. Maka dalam kehidupannya, Kiai Imam selalu mempertimbangkan aspek agama dan sosial. Di tangan Kiai Imam, Tribakti di sekitar tahun 1986 berkembang pesat dengan tambahan beberapa sarana prasarana dan fakultas yang awalnya hanya ada Tarbiyah dan Syari’ah, sebut saja fakultas Dakwah, Ekonomi, Hukum, Bahasa dan Pertanian.
Menghadap Sang KhaliqPada tahun 2004, Kiai Imam divonis oleh dokter mengidap diabetes tinggi, meski demikian aktifitas selalu dijalani dengan tabah. Hingga awal tahun 2011, kondisi beliau semakin drop dan dilarikan ke RS. Gambiran Kediri. Kemudian dokter menyarankan agar Kiai Imam dilarikan ke Graha Amerta Surabaya. Beliau terkena kanker paru-paru yang telah menjalar ke saluran pernafasan. Semenjak itu, beliau sering keluar masuk rumah sakit. Berbagai macam cara pengobatan ditempuh termasuk cara tradisional Shin Sei hingga penyakitnya berangsur-angsur pulih. Melihat kondisi yang semakin membaik, beliau kembali aktif dalam berbagai kegiatan, mengurusi pondok, kampus serta menemui tamu setiap harinya hingga kondisi kesehatan terlalaikan.
Menjelang akhir 2011, penyakit kanker beliau kambuh dan bertambah parah. Beliau meminta untuk dirujuk ke RS. Graha Amerta Surabaya. Sehari sebelum ke RS, beliau menyempatkan untuk mengunjungi lahan perluasan pondok di ds. Ngampel, Mojoroto. Setelah mengukur sepetak tanah, beliau bilang kepada mandor tukang “ini tempat kuburan saya”. Dan benar, setelah dirawat di Surabaya, tanggal 14 januari 2012 beliau dipanggil oleh Allah SWT. Mulanya beliau merasa kesakitan di bagian perut hingga sang istri mengeroki punggung beliau karena dirasa masuk angin. Beliau berencana untuk pulang ke Lirboyo tercinta, sesaat kemudian beliau pamit untuk tidur, akan tetapi beliau tertidur untuk selamanya.
Sumber : http://majalahlangitan.com/kh-imam-yahya-mahrus-supel-dalam-bergaul-tegas-dalam-mendidik/

Biografi KH Marzuqi Dahlan

Posted By Harun Arrosyid 31 juli 2016

KH. Marzuqi Dahlan lahir tahun 1906 M, di Desa Banjarmelati, sebuah desa di bantaran barat Sungai Brantas, Kota Kediri. Beliau putra bungsu dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Dibawah pengawasan langsung kakeknya (KH. Sholeh Banjarmelati) Gus Zuqi kecil menerima pengajaran dasar-dasar Islam seperti aqidah, tajwid, fiqh, ubudiyah, dll. Pernah satu waktu, sang ayah (Kiai Dahlan) meminta agar Gus Zuqi kembali ke kampung halaman (Pondok Pesantren Jampes) guna menuntut ilmu langsung di bawah asuhan ayah kandung sendiri. Gus Zuqi bersedia, namun beberapa saat kemudian Gus Zuqi kembali ke Banjarmelati.
Ketika Gus Zuqi beranjak muda, beliau pindah menuntut ilmu di Lirboyo, dibawah asuhan KH. Abdul Karim yang merupakan paman Gus Zuqi. Disinilah kemampuan berpikir Gus Zuqi semakin terasah, sehingga dalam waktu yang singkat beliau dapat menyerap berbagai ilmu keagamaan. Usai dari di Lirboyo, Gus Zuqi meneruskan pengembaraan di pelbagai pondok pesantren, diantaranya; Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, asuhan KH. Zainuddin, Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan Kiai Khozin, cukup lama beliau mondok di Pare hingga berusia 20-an tahun. Selanjutnya beliau kembali ke kampung halaman untuk belajar langsung ke KH. Ihsan Al-Jampasy, sang kakak yang juga pengarang kitab Shirojut Tholibin. Sebuah kitab monumental dalam bidang tasawuf.
KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam binti KH Abdul Karim dan berdomisili di Lirboyo tahun 1936 M. Meski telah menikah, semangat beliau dalam mengaji tidak pernah luntur, hal ini merupakan salah satu amanat yang disampaikan KH Abdul Karim kepada beliau, sesaat usai aqad nikah berlangsung, hingga himmah beliau untuk tetap mendidik santri terus terjaga dan sangat istiqomah.
Pada tahun 1961 M, Nyai Maryam berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan beliau untuk selama-lamannya. Namun untuk menghapus kedukaan yang berlarut-larut, keluarga menikahkan KH. Marzuqi Dahlan dengan Nyai Qomariyah yang tak lain adalah adik bungsu Nyai Maryam.
Sosok KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok sederhana dan sangat bersahaja, hal ini terbukti dari penampilan beliau sehari-hari yang jauh dari kesan mewah dan perlente. Padahal saat itu beliau sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Ketika bepergian dan atau berziarah ke makam-makam Auila’ disekitar Kediri, KH Marzuqi Dahlan lebih sering bersepeda. Bukan hanya kendaraan, kediaman beliaupun terbilang sangat sederhana, yakni berdindingkan anyaman bambu, hingga pada tahun 1942 M barulah kediaman beliau berganti dengan tembok.
Pada Tahun 1973 M KH. Marzuqi Dahlan menunaikan Ibadah haji. Dua tahun setelah menunaikan ibadah haji, kondisi beliau mulai terganggu, sebab usia beliau memang sudah sepuh. Namun meski demikian, semangat beliau untuk memimipin Pesanten Lirboyo tetap terjaga, hingga pada bulan Syawal pada tahun 1975, beliau jatuh sakit dan harus dirawat di RS. Bhayangkara, Kediri. Dua minggu lamanya beliau dirawat. Karena tidak ada perubahan yang menggembirakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pulang KH. Marzuqi Dahlan ke kediaman beliau, hingga pada hari Senin Tanggal 18 Nopember 1975 M beliau dipanggil sang pencipta, dihadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya. (al Fatihah…)
 Sumber :  https://lirboyo.net/kh-marzuqi-dahlan-1906-1975/

Jumat, 29 Juli 2016

BiografiI KH. Mahrus Aly

Posted By : Harun Arrosyid 29 juli 2016
Beliau lahir pada tahun 1906 di dusun Gedongan kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon Jawa Barat, ayah beliau KH Aly bin Abdul Aziz dan ibu beliau Hasinah binti Kyai Sa’id, KH. Mahrus Aly adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi, masa kecil beliau lebih banyak dijalani di tanah kelahirannya, sifat kepemimpinan beliau sudah nampak pada saat masih kecil, hingga beranjak remaja, sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarganya, disinilah beliau diasuh oleh ayahnya sendiri KH Aly dan kakak Kandungnya Kyai Afifi. Pada saat beliau berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmunya di Pesantren Panggung Tegal, asuhan Kyai Mukhlas Kakak iparnya sendiri, disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni, selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kyai Balya seorang jawara pencak silat asal Tegal Gubug Cirebon. Pada saat monok di tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927, selanjutnya KH. Mahrus Aly meneruskan pencarian ilmunya di Pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah yang diasuh KH. Kholil, setelah 5 tahun menuntut ilmu dipesantren ini atau sekitar tahun 1936 KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni sehingga KH. Mahrus Aly tinggal mempedalam dan tabaruqan saja, bahkan beliau diangkat menjadi Pengurus Pondok. Selama nyantri di Lirboyo beliau dikenal sebagai satri yang tak pernah letih mengaji, jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabaruqan dan mengaji di Pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. PP. Watu congol muntilan Magelang, asuhan Kyai Dalhar. Juga pondok pesantren Langitan tuban, Sarang dan Lasem Rembang.

Sebenarnya KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidaklah lama, hanya sekitar tiga tahun saja, namun karena kealimannya membuat KH. Abdul Karim menjadi jatuh hati, dan menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab. Tepatnya pada tahun 1938. kemudian pada tahun 1944 KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman disebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, ditangan mereka berdualah kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo, banyak santri yang berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti), peran serta KH. Mahrus Aly dalam usaha membangkitkan kemerdekaan juga tidak bisa diremehkan, hal ini disebabkan peran beliau dalam mengirimkan 97 santri pilihan dari pondok pesantren Lirboyo untuk menumpas sekutu di Surabaya, yang belakangan ini dikenal dengan peristiwa 10 November, hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di daerah kediri dan juga mempunyai andil yang besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlotul Ulama’, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa trimur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mutasyar PBNU pada tahun 1985

Duka menggelayut Pondok Pesantren Lirboyo tepatnya pada hari senin tanggal 04 Maret 1985, sang istri tercinta Ibu Nyai Hj. Zaenab berpulang kerahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama nyai derita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan, hingga banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 mei 1985 kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bayangkara Kediri akhirnya beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo Surabaya dengan menggunakan Helikopter atas perintah Pangab LB. Moerdani, manusia berusaha namun Allah Jualah yang menentukan, meskipun pelbagai upaya medis paling canggih sekalipun telah diupayakan oleh tim dokter yang terbaik di RS Dr. Soetomo surabaya, akhirnya KH. Mahrus Aly berpulang kerahmatullah, tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985, tepat delapan hari setelah beliau dirawat di surabaya. Berita meninggalnya KH. Mahrus Aly membuat duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, karena mereka semua telah kehilangan panutan yang selama ini mereka idolakan dan mereka bangga-bangakan. Beliau wafat diusia 78 tahun.

Rabu, 27 Juli 2016

Biografi KH Abdul Karim Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo


Posted By : Harun arrosyid 27 juli 2016
Abdul Karim dilahirkan di Dukuh Banar Desa Diangan Kawedanan M
ertoyudan Kabupaten Magelang pada tahun 1856. Nama kecilnya Manab. Ia putra ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Abdul Rahim. Ibunya bernama Salamah. Ayah Abdul Karim adalah seorang petani sederhana. Kadangkala, saat hasil pertanian tida mencukupi untuk kebutuhan keluarga, ayahnya serin berdagang ke kota Muntilan. Saat Manab masih belia, ayahnya meninggal dunia. Karena keterbatasan ekonomi, akhirnya ib Manab menikah lagi dan melahirkan tiga orang anak. Kondisi ekonomi semakin melemah, hingg menuntut Manab harus hidup mandiri. Ia bertekad haru bisa berdiri tegak dengan kaki sendiri. Ia tak ma merepotkan orang lam.

Dalam kondisi demikian, Manab kecil untuk menuntut ilmu semakin besar. I ingin mengikuti jejak kedua kakaknya, Aliman da Mu'min yang belajar di pesantren. Kedua kakakny adalah seorang pengembara ilmu yang ulet. Sebagai kakak, Aliman sangat mengetahui isi ha adiknya yang ingin belajar agama. Akhirnya, saat Alima pulang ke Magelang dari pesantren Jawa Timur. I kemudian mengajak Manab untuk be Eaj ar di Jawa Timur Saat itu usia Manab baru 14 tahun. Pada tahun 1870, Mana.' berangkat untuk menuntut ihnu di Jawa Timur. Mereka berdua harus berjalan puluhan kilometer. Akhirnya, sampailah mereka di sebuah dusun bernama Babadan Gurah Kediri. Di Kediri, mereka menemukan sebuah mushala kecil dan berguru kepada seorang kiai tentang genyam pendidikan agama. Setelah men Manab kemudian melanjutkan belajar agamanva di an agama di Kediri, Pesantren Cepogo Nganjuk.

Di Pesantren ini, Manab tidak hanya mengaji tapi juga bekerja. Manab belajar 6 tahun di pesantren ini, dirasa sudah cukup, ia kemudian pindah lagi di Pesantren Trayang Bangsri Kertosono. Tak puas sampai di situ, Manab pun melanj utkan studinya di Pesantren Sono Sidoarjo. Pesantren ini terkenal dengan ilmu nahwu dan sharafnya. Di pondok ini, Manab bisa lebih konsentrasi belajar, karena ia dibiayai oleh kakaknya, Aliman. Karena kakaknya mengetahui kecerdasan dan keuletan Manab, kakaknya merasa sayang jika belajarnya harus terganggu. Di pesantren ini, Manab bertahan sampai 7 tahun. Di pesantren Sono Sidoarjo, Manab banyak mempelajari ilmu nahwu dan sharaf. Kitab kuning Alfiyyah Ibnu Malik dapat dikusainya dengan baik.

Setelah belajar dari pesantren ini, kemudian ia melanjutkan belajar agamanya kepada KH. Khalil Bangkalan. Beliau adalah guru para pemimpin Islam, seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, dan kiai-kiai terkenal lainya. Di Pondok asuhan KH. Khalil ini, Manab menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar dan bekerja. Karena ia sudah tak dibiayai kakaknya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dirinya harus memetik daun Pace dt sekitar pondok. Bahkan, Manab seringkali makan sisa makanan teman-temannya. Ia juga sering makan ampas kelapa. Sebelum belajar kepada KH. Khalil Bangkalan, Manab belajar di pesantren Kedungporo Sepanjang Surabaya. Kemudian baru menyeberang ke Bangkalan Madura.
Pendidikan KH Abdul Karim
Manab terkenal sangat haus ilmu. Karena kecintaannya pada ilmu yang mendalam, Manab rela berjalan kaki dari Magelang ke Bangkalan. Suatu saat, ia pulang ke Magelang. Setelah beberapa hari Manab tinggal di rumah, akhirnya ia hendak kembali ke Bangkalan. Ibunya kemudian membekali Manab uang lima rupiah untuk naik kereta. Karena saat itu ia butuh kitab Minhajul Qawim dan Ibnu Aqil, akhirnya ia rela berjalan ratusan kilometer dari Magelang ke Bangkalan Madura. Itu dilakukan katena uangnya ingin dibelikan kitab. Kadang kala, untuk mendapatkan kitab yang baru (yang belum dibaca), Manab biasanya tukar-menukar kitab dengan temannya. Seringkali pula, Manab harus menjual kitab yang sudah dibacanya dan uangnya dibelikan kitab yang baru. Tak terasa Manab telah menimba ilmu agama di Bangkalan selama 23 tahun. Tak pelak, ilmu Manab sangat mendalam, wawasannya pun juga luas.

Akhirnya, suatu hari KH. Khalil berkata pada Manab, "Nab, Baliyo ilmuloswis entek," (Nab Pulanglah ilmuku sudah habis). Karena gurunya berkata demikian, Manab pun meninggalkan Bangkalan,, meskipun sesungguhnya ia masih ingin belajar di Bangkalan. Ketika dalam perjalanan, Manab ingat kalau sahabatnya, KH. Hasyi mendirikan Pesantren di Tebuireng. Akhirnya, Manab pun belajar lagi kepada pen NU, KH. Hasyim Asy'ari sampafumur 50 tahun. Karena terlalu cintanya yang mendalam kepada ilmu, ia lupa untuk ment Manab menikah saat usianya 50 tahun. Sedangkan istTinya bemama Khadijah binti Shaleh berumur 15 tahun. Pernikahan itu diadakan pada tahun 1908. Pada ta berikutnya lahir putrinya yang pertarna bernama Hannah.


Sumber : http://tokohnesia.blogspot.co.id/2015/06/biografi-kh-abdul-karim.html